Selasa, 29 November 2016

KONFLIK : Coser, Dahrendorf, Marx, Simmel


KONFLIK
Hasil gambar untuk konflik



Dalam membahas berbagai situasi konflik, Coser membedakan konflik menjadi dua macam yaitu:

a.       Konflik Realistis

Konflik realistis yaitu konflik yang berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan runtutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, yang di tujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Konflik realistis memiliki beberapa ciri antara lain:

Konflik muncul dari frustasi atas tuntutan khusus dalam hubungan dan dari perkiraan keuntungan anggota dan yang diarahkan pada objek frustasi. Di samping itu, konflik merupakan keinginan untuk mandapatkan sesuatu (expectations of gains).

Konflik merupakan alat-alat untuk mendapatkan hasil-hasil tertentu. Langkah-langkah untuk mencapai hasil ini jelas disetujui oleh kebudayaan mereka. Dengan kata lain, konflik realistis sebenarnya mengejar: power, status yang langka, resources (sumber daya), dan nilai-nilai. Konflik akan berhenti jika aktor dapat menemukan pengganti yang sejajar dan memuaskan untuk mendapatkan hasil akhir.

Pada konflik realistis terdapat pilihan-pilihan fungsional sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pilihan-pilihan amat bergantung pada penilaian partisipan atas solusi yang selalu tersedia. Contoh dari konflik ini yaitu para karyawan yang mengadakan pemogokan kerja melawan manajemen perusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji.

b.       Konflik Non Realistis.

Konflik non realistis yaitu konflik yang bukan berasal dari tujuan tujuan saingan yang antagonistis, melainkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah pihak. Contoh dari konflik ini yaitu: dalam masyarakat buta huruf, pembalasan dendam lewat ilmu gaib sering merupakan bentuk konflik non realisitis, sebagaimana halnya dengan pengkambinghitaman yang sering terjadi dalam masyarakat yang telah maju. Dalam hubungan antar kelompok, pengkambinghitaman digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana seseorang tidak melepaskan prasangka mereka melawan kelompok yang benar benar merupakan lawan, melainkan menggunakan kelompok pengganti sebagai obyek prasangka.

Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana- sarana berada dalam satu individu- individu yang sama.

KONFLIK RALF DAHRENDORF

Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana- sarana juga bertugas sebagai pengontrol apalagi pada abad kesembilan belas. Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas. Diantaranya:

1.       Dekomposisi modal

Menurut Dahrendorf timbulnya korporasi- korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang banyak, dimana tak seorangpun memiliki kontrol penuh merupakan contoh dari dekomposisi modal. Dekomposisi tenaga.





2.      Dekomposisi Tenaga kerja

Pada abad spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya, seperti halnya seseorang atau beberapa orang yang mempunyai perusahaan tapi tidak mengendalikanya. Karena zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi, manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai- pegawai untuk memimpin perusahaanya agar berkembang dengan baik.

3.       Timbulnya kelas menengah baru

Pada akhir abad kesembilan belas, lahir kelas pekerja dengan susunan yang jelas, di mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di bawah.

Penerimaan Dahrendorf pada teori konflik Karl Marx adalah ide mengenai pertentangan kelas sebagai satu bentuk konflik dan sebagai sumber perubahan sosial. Kemudian dimodifikasi oleh berdasarkan perkembangan yang terjadi akhir- akhir ini. Dahrendorf mengatakan bahwa ada dasar baru bagi pembentukan kelas, sebagai pengganti konsepsi pemilikan sarana produksi sebagai dasar perbedaan kelas itu. Menurut Dahrendorf hubungan- hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan unsur bagi kelahiran kelas.

Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di antara mereka yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan. Perbedaan dominasi itu dapat terjadi secara drastis. Tetapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas sosial yaitu, mereka yang berkuasa dan yang dikuasai. Dalam analisisnya Dahrendorf menganggap bahwa secara empiris, pertentangan kelompok mungkin paling mudah di analisis bila dilihat sebagai pertentangan mengenai ligitimasi hubungan- hubungan kekuasaan. Dalam setiap asosiasi, kepentingan kelompok penguasa merupakan nilai- nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasannya, sementara kepentingan- kepentingan kelompok bawah melahirkan ancaman bagi ideologi ini serta hubungan- hubungan sosial yang terkandung di dalamnya.

            Contoh: Kasus kelompok minoritas yang pada tahun 1960-an kesadarannya telah memuncak, antara lain termasuk kelompok- kelompok kulit hitam, wanita, suku Indian dan Chicanos. Kelompok wanita sebelum tahun 1960-an merupakan kelompok semu yang ditolak oleh kekuasan di sebagian besar struktur sosial di mana mereka berpartisipasi. Pada pertengahan tahun 1960-an muncul kesadaran kaum wanita untuk menyamakan derajatnya dengan kaum laki- laki.

KONFLIK KARL MARX

Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.

Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar.[butuh rujukan] Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.


SIMMEL



    Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah- pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisis.

    Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat.






Identitas yang dibangun pendidikan di Indonesia



Identitas yang dibangun pendidikan di Indonesia 

Identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, atau Negara sendiri. Identitas merupakan sesuatu yang menunjukan diri kita, dimana hal ini membedakan antara yang satu dengan lainnya. Identitas dapat terbentuk berdasarkan kesepakatan suatu bangsa, berdasar kenyataan, pemikiran, selain itu pendidikan juga berperan dalam membangun suatu identitas bangsa melalui pembelajaran, dan pembentukan sikap peserta didik dalam dunia pendidikan.
Pendidikan pada dasarnya suatu jembatan yang menghubungkan antara manusia dan ilmu pengetahuan, baik itu melalui pendidikan keluarga, formal, informal maupun nonformal. Pendidikan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membangun pemikiran seseorang, melalui pendidikan seseorang dapat mempunyai pemikiran mengenai berbagai hal dan dapat melihat dari berbagai sudut pandang. Selain itu melalui pendidikan seseorang dapat  memahami mengenai arti penting dari sebuah identitas.
Berbicara mengenai identitas, melihat bahwa pada hakekatnya Indonesia merupakan Negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi serta Negara yang terdiri dari berbagai pulau maka identitas masyarakat Indonesia tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang. Begitu pula dengan peran pendidikan yang mencoba membangun suatu identitas bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa terutama di Indonesia dapat belajar mengenai perbedaan antar sesama, kesederhanaan, kekompakan, kepatuhan, dan lain sebagainya.
Pendidikan di Indonesia berusaha membangun kesamaan atas segudang perbedaan dimana bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragam baik dari tanah kelahiran, warna kulit, latar belakang keluarga bahkan dari ekonomi. Misalnya penerapan pemakaian seragam sekolah bagi siswa/siswi pada jenjang SD sampai SMA hal itu bertujuan agar menciptakan suatu kesamaan antar peserta didik satu dengan yang lainnya. Selain itu seragam sekolah juga digunakan agar tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara si kaya dan si miskin, walaupun masih tetap dapat terlihat perbedaannya seperti pemakaian jam tangan, merk tas ataupun jenis atau merk sepatu yang digunakan.
Pendidikan di Indonesia juga berusaha membangun pemikiran bahwa jika kita ingin memliki pengaruh bagi masyarakat atau orang lain, maka itu harus diperjuangkan karena kemenangan itu diraih bukan diberikan. Namun disisi lain pendidikan di Indonesia sepertinya lebih menghormati ataupun menghargai suatu angka dibanding nilai kejujuran, seperti misalnya seorang guru lebih mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada siswa yang mendapat nilai besar dibanding dengan siswa yang bernilai kecil namun berlaku jujur. Akibatnya bukan sesuatu yang aneh jika pelajar atau mahasiswa lebih senang mencontek saat ujian atau saat mengerjakan tugas agar mendapat nilai besar, karena nilai kejujuran sudah kurang bahkan tidak lagi dihargai.
Selain itu dalam segi bahasa, Indonesia memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, mengingat bahwa di Indonesia memiliki berbagai pulau dan beragam bahasa daerah yang digunakan. Namun, dalam dunia pendidikan di Indonesia terutama pengajaran di sekolah, setiap daerah mempelajari bahasa lokalnya masing-masing selain bahasa Indonesia dan bahasanya inggris. Hal itu menurut saya sebagai upaya agar lebih menumbuhkan identitasnya yang khas dibalik keragaman bahasa yang di miliki masyarakat Indonesia, agar masyarakat Indonesia dapat dibedakan, memiliki banyak kekhasan atas dasar persamaan.
Sebenarnya, berbicara mengenai identitas yang dibangun pendidikan di Indonesia cukup sulit, karena Indonesia merupakan Negara yang multicultural. Dalam pengajarannya setiap satuan pendidikan menerapkan hal yang berbeda-beda, hal tersebut didasarkan atas pribadi pengajar serta wilayah yang menjadi tempat menimba pendidikan. Namun pada hakekatnya pendidikan berupaya membangun pemikiran yang dibangun sejak dini memperlihatkan bahwa Indonesia itu beragam namun dalam satu ruang lingkup yakni satu Negara, sehingga banyak diajarkan pemahaman mengenai toleransi baik dari segi agama, status, ekonomi serta yang berkaitan dengan hubungan sosial lainnya.
 

THE PHILOSOPHY OF MONEY “HUBUNGAN ANTARA UANG DENGAN NILAI” (GEORGE SIMMEL)



GEORGE SIMMEL : THE PHILOSOPHY OF MONEY “HUBUNGAN ANTARA UANG DENGAN NILAI” 
Hasil gambar untuk philosophy of money


1.1         Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki banyak kebutuhan dan keinginan untuk melangsungkan hidupnya dan untuk memperoleh eksistensi diri di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu manusia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kebutuhan dan keinginannya sehingga mereka bisa merasa puas ketika mendapatkan sesuatu itu dan pada akhirnya mereka tetap bisa melangsungkan hidup mereka dengan baik.
Keinginan manusia untuk memperoleh sesuatu itulah yang membuat sesuatu semakin bernilai dan dianggap sangat berharga jika kita bisa mendapatkannya. Tetapi untuk mendapatkan sesuatu itu pasti ada suatu proses dan nilai tukar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Nilai tukar itulah yang digambarkan dengan sesuatu barang yang mudah untuk mendapatkannya. Dan nilai tukar itu disebut dengan uang.
Uang bisa menjadi sarana yang positif dalam proses mendapatkan sesuatu tetapi uang juga bisa menjadi sarana yang negatif ketika seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Disini kami akan membahas bagaimana hubungan antara nilai dengan uang dan bagaimana jarak-jarak yang dibuat oleh uang kemudian cara menyelesaikan jarak tersebut.



1.2         Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah untuk makalah teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana Biografi dari salah satu tokoh teori sosial klasi Georg Simmel?
2.      Bagaimana teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel?
3.      Bagaimana Efek dari Uang?
4.      Bagaimana Implementasi teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel?
5.      Apa saja fakta dari teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) di lingkungan sekitar?

1.3         Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui Biografi dari salah satu tokoh teori sosial klasi Georg Simmel
2.      Mengetahui teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel
3.      Mengetahui Efek dari Uang
4.      Mengetahui Implementasi teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel
5.      Mengetahui beberapa fakta dari teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) di lingkungan sekitar




BAB II
PEMBAHASAN

2.1           Biografi Georg Simmel
Georg Simmel lahir di pusat kota Berlin pada tanggal 1 Maret 1858. Ia belajar berbagai bidang studi di Universitas Berlin. Namun, upaya pertamanya untuk menulis disertasi ditolak. Kendati demikian, Simmel bersikukuh untuk  memperoleh gelar doktornya dalam bidang filsafat pada tahun 1881. Ia tetap berada di universitas sebagai pengajar sampai dengan tahun 1914, meskipun ia menduduki posisi yang tidak penting sebagai privatdozent pada tahun 1885 sampai dengan 1900. Dalam posisi selanjutnya, Simmel bekerja sebagai dosen yang tidak digaji negara dan hidupnya tergantung pada bayaran mahasiswa. Kendati berada pada posisi pinggir, Simmel agak sukses menjalani kariernya, terutama karena ia adalah seorang pemberi kuliah yang begitu cemerlang dan menarik perhatian mahasiswa.
Oleh beberapa orang ia digambarkan sebagai seorang yang tinggi dan langsing, sementara oleh orang lain digambarkan sebagai seorang yang pendek dan menunjukkan ekspresi putus asa. Tampilan luarnya dilaporkan sebagai tidak menarik, tipikal Yahudi, namun juga sangat intelektual dan teguh secara moral. Ia dilaporkan sebagai seorang pekerja keras, namun juga penuh humor dan sangat lancar berbicara ketika memberikan kuliah.
Simmel menulis begitu banyak artikel “the metropolis and mental life” dan buku “the philosophy of money”. Ia terkenal dikalangan akademisi Jerman dan bahkan memiliki pengikut internasional, khususnya di Amerika Serikat, tempat karyanya memiliki arti sangat penting bagi kelahiran sosiologi. Akhirnya, pada tahun 1900, Simmel memperoleh pengakuan penuh, satu gelar terhormat di Universitas Berlin.
Salah satu alasan bagi kegagalan Simmel adalah karena ia seorang Yahudi yang hidup di Jerman abad ke-19 yang sarat dengan anti-Semitisme (Kasier,1985). Jadi, dalam satu laporan tentang Simmel yang ditulis kepada menteri pendidikan, Simmel digambarkan sebagai seorang “Israel sejati, dari tampilan luarnya, dari gerak-geriknya dan dari cara berfikirnya”. Alasan lain adalah jenis jenis karya yang ditulisnya. Banyak artikel yang terbit di surat kabar dan majalah; semua itu di tulis untuk audien yang lebih umum daripada untuk para psiolog akademis. Selain itu, karena tidak memiliki jabatn akademi regular, ia terpaksa mendapatkan penghasilan dengan kuliah umum. Audien simmel, bagi tulisan maupun kuliah-kuliahnya, adalah khalayak intelektual ketimbang sosiolog professional, dan hal ini cenderung membawanya pada penilaian bernada ejekan dari rekan-rekan seprofesinya.
Akhirnya pada tahun 1914 Simmel memperoleh pekerjaan akademik regulerr satu universitas kecil (Strasbourg) namun sekali lagi ia merasa terkucil. Disatu sisi, ia menyesal karena meninggalkan audiennya di kalangan Intelektual Berlin.
Perang Dunia 1 meletus beberapa waktu setelah kerja Simmel di Strasboug. Jadi, Simmel tetap menjadi sosok marjinal di kalangan akademisi Jerman sampai dengan ia wafat tahun 1918. Ia memang tidak pernah menapaki karier akademis. Namun, Simmel menarik banyak pengikut akademik pada masa ini, dan ketenarannya sebagai ilmuwan memang tumbuh pesat setelah beberapa tahun berselang.

2.2           Teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel
Salah satu yang menjadi perhatian awal Simmel dalam karya ini adalah hubungan antara uang dengan nilai. Secara umum ia berpendapat bahwa orang menciptakan nilai dengan menciptakan objek. Semakin besar kesulitan untuk mendapatkan suatu objek, semakin besar pula nilainya. Namun kesulitan untuk memperoleh nilai mempunyai “batas atas batas bawah”. Prinsip umumnya adalah bahwa nilai benda berasal dari kemampuan orang untuk menjarakkan dirinya secara tepat dari objek. Benda-benda yang terlalu dekat, terlalu mudah diperoleh, maka benda itupun tidak terlalu berharga. Dan sebaliknya benda-benda yang terlalu jauh, terlalu sulit, atau nyaris mustahil untuk didapatkan juga sangat tidak bernilai. Benda-benda yang paling bernilai adalah yang tidak terlalu jauh ataupun terlalu dekat. Faktor yang mempengaruhi suatu benda bernilai atau tidak adalah waktu yang diperlukan untuk mendapatkannya, kelangkaan, kesulitan untuk memperolehnya, dan keharusan nya diberikan benda lain untuk mendapatkannya. Simmel memandang uang sebagai bentuk khusus nilai. Uang merupakan fenomena yang terkait dengan berbagai komponen kehidupan seperti pertukaran, milik, kebebasan individu, gaya hidup, kebudayaan, dan nilai individu.
Dalam konteks umum nilai inilah Simmel mendiskusikan uang. Dalam ranah ekonomi, uang berperan dalam menciptakan jarak dengan objek dan menawarkan diri menjadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut. Nilai uang yang melekat pada objek dalam ekonomi modern menyebabkan kita berjarak darinya, kita tidak dapat memperolehnya tanpa uang kita. Kesulitan untuk mendapatkan uang dan objek-objek tersebut menjadikannya bernilai bagi kita. Pada saat yang sama, sekali kita mendapatkan cukup banyak uang, kita mampu mengatasi jarak antara diri kita dengan objek. Dengan demikian uang memiliki fungsi yang unik, menciptakan jarak antara orang dengan objek, kemudian menjadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut.
Dalam proses menciptakan nilai, uang juga menyediakan dasar bagi berkembangnya pasar, ekonomi modern, dan akhirnya masyarakat modern. Uang menyediakan sarana yang dapat digunakan elemen-elemen ini untuk mendapatkan kehidupan bagi dirinya sendiri yang bersifat eksternal dan memiliki daya paksa terhadap actor. Hal ini bertentangan dengan masyarakat-masyarakat sebelumnya dimana barter atau perdagangan tidak mengarah pada uang semata. Simmel menyatakan bahwa uang memungkinkan adanya kalkulasi jangka panjang, usaha skala besar, dan kredit jangka panjang. Dan hal itu kini benar-benar terjadi dalam kehidupan ini.
Diam-diam uang berperan penting dalam rasionalisasi dengan meningkatkan arti penting kecerdasan di dunia modern. Di satu sisi, perkembangan ekonomi uang diyakini akan menyebabkan ekspansi proses mental. Sebagai contoh, Simmel menunjukkan betapa rumitnya proses mental yang diperlukan dalam transaksi dengan uang, misalnya membayar tagihan bank dengan uang tunai. Di sisi lain uang juga berperan besar dalam perubahan norma dan nilai dalam masyarakat. Sehingga dapat diartikan bahwa uang bisa mendorong terjadinya “reorientasi fundamental kebudayaan kearah intelektualitas”.

2.3           Efek dari Uang
2.3.1.      Efek Positif
Uang memang seharusnya memberikan manfaat bagi manusia. Dengan ditemukannya uang, manusia mudah untuk menentukan standar dalam bertransaksi. Uang bersifat universal, apalagi di jaman globalisasi saat ini. Uang menaruh investasi jangka panjang kehidupan manusia kedepannya, contohnya dengan adanya pasar modal, tabungan, semua semata-mata dilakukan  karena uang diyakini bisa menjadi jaminan hidup manusia nantinya.
Uang juga dapat memacu setiap orang untuk meningkatkan kapasitas diri, karena tinggi rendahnya nilai uang yang akan dihasilkan, berbanding lurus dengan kualitas diri seseorang. Hasil karya/ usaha seseorang dapat dihargai dengan jumlah besarnya uang yang dia hasilkan. Kakak ipar saya, sebut saja Lutfi, dahulunya miskin, memiliki banyak saudara dan hidup yatim. Ibunya membiayai kuliahnya dengan berdagang nasi uduk setiap hari. Setelah lulus kuliah dengan gelar Sarjana Teknik Kimia, dia melamar kerja di sebuah perusahaan minyak asing, Chevron. Dengan berbagai usaha dan keuletan yang dilakukannya, dia dipindahkerjakan ke Oman dan berpenghasilan lebih dari 70 juta rupiah perbulan. Dia bekerja keras demi mengangkat kondisi keluarganya dengan memiliki uang yang lebih. Saat ini dia disegani dan dihargai orang lain, karena mereka tahu, Lutfi telah berhasil memiliki kualitas diri yang pantas. Secara langsung, status sosialnya juga terangkat dalam kehidupan bermasyarakat.
2.3.2.      Efek Negatif
Efek negatif dari hubungan antara uang dan nilai yang dikemukakan oleh Simmel adalah meningkatnya sinisme dan sikap acuh. Sinisme terjadi ketika aspek tertinggi dan terendah dari kehidupan sosial diperjualbelikan, direduksi menjadi alat tukar umum (uang). Sehingga kita bisa “membeli” kecantikan, kebenaran, ataupun kecerdasan semudah membeli cemilan. Meningkatnya segala hal menjadi alat tukar umum mengarah pada sikap sinis bahwa segala hal memiliki harga, bahwa apapun dapat dijual atau dibeli di pasar.
Efek negatif lain dari ekonomi uang adalah semakin merebaknya hubungan impersonal antarorang. Alih-alih berhubungan dengan individu sebagai pribadi, kita cenderung hanya berhubungan dengan posisi. Misal, ketika mengenal orang kita hanya mengenal dari posisinya saja (tukang antar barang, tukang kebun, tukang roti, dan lain-lain) dan hal itu terlepas dari siapa yang menduduki posisi tersebut.
Dampak yang lainnya adalah reduksi nilai manusia menjadi dolar, “kecenderungan mereduksi nilai manusia menjadi ekspresi moneter” atau bisa dikatakan bahwa manusia bisa dibayar dengan uang. Sebagai contoh, Simmel menggambarkan kasus yang terjadi di masyarakat primitive, yaitu diampuninya pembunuhan dengan membayar sejumlah uang, contoh yang lain yaitu dipertukarkannya seks dengan uang. Meluasnya prostitusi juga merupakan dampak dari ekonomi uang.

2.4           Implementasi teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) dari Georg Simmel
Dalam teori tersebut Simmel mengatakan bahwa “uang memungkinkan adanya kalkulasi jangka panjang, usaha skala besar, dan kredit jangka panjang”. Dan hal itu kini benar-benar terjadi dalam masyarakat, dimana kini banyak bermunculan kredit-kredit. Simmel juga pernah mengatakan bahwa “….jadi salah satu kecenderungan hidup-reduksi kualitas menjadi kuantitas secara amat jelas terwujud dalam bentuk uang…”.
Implementasi teori Simmel dalam masyarakat juga bisa kita lihat dari perkataan Simmel yang mengatakan bahwa “Dampak lain ekonomi uang adalah reduksi nilai manusia menjadi dolar”. Simmel juga memberi contoh tentang hal itu, yaitu meluasnya prostitusi, dan di masyarakat sekarang ini prostitusi seakan sudah menjadi bagian hidup sebagian orang disekitar kita.

2.5           Fakta teori The Philosophy of Money (Hubungan Uang dan Nilai) di lingkungan sekitar
2.5.1.      Di lingkungan kampus (Universitas Trunojoyo Madura)
Di setiap Universitas pasti ada proses Administrasi yang dilakukan oleh Mahasiswa sebelum melakukan proses perkuliahan. Dulu di Universitas Trunojoyo Madura sendiri pembayaran SPP (sekarang menjadi UKT) dilakukan secara langsung dengan datang ke kampus dan membayar kepada petugas sebelum melakukan proses selanjutnya. Tetapi pada saat ini proses pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal) dilakukan dengan Online atau transaksi secara tidak langsung, Jadi mahasiswa melakukan pembayaran dulu melalui bank. Dari sini bisa disebut bahwa melakukan suatu proses untuk memperoleh suatu nilai yang dianggap berharga (kuliah) atau jarak yang dibuat oleh uang dan memperolehnya juga melalui uang serta prosesnya pun mengalami perubahan dari pembayaran langsung menjadi pembayaran secara Online.
Contoh di atas bisa mencontohkan teori Georg Simmel dalam bukunya The Philosophy of Money bahwa uang juga bisa membawa efek positif  yaitu membuat perubahan kearah intelektualitas.
2.5.2.      Di lingkungan Remaja
Remaja identeik dengan keinginannya yang tinggi untuk memperoleh sesuatu yang dianggapnya berharga. Khususnya remaja wanita yang tentu menginginkan kecantikan fisik yang menurut mereka itu adalah sesuatu yang sangat penting. Meskipun jarak yang ada antara mereka dengan kecantikan itu bisa dikatakan sangat jauh karena kosmetik atau sesuatu untuk menjadikan fisik mereka tampak cantik di ukur oleh uang. Semakin mahal harga prodaknya maka menurut mereka semakin berharga pula nilai dari kosmetik tersebut.
Di kota besar, seperti salah satunya adalah Surabaya (kota asal penulis) ada fenomena yang bisa menjelaskan tentang teori tersebut. Mereka yang memiliki uang lebih bisa memperoleh nilai yang berharga (kecantikan) dengan mudahnya namun mereka yang tidak memiliki uang cukup seperti remaja wanita yang berada di pinggiran kota Surabaya hanya bisa memendam keinginan mereka untuk tampil lebih cantik secara fisik dan memendam keinginan untuk mengatasi jarak yang diciptakan oleh uang tersebut.
Contoh ini bisa menjelaskan bahwa pengamatan Georg Simmel mengenai efek negative dari uang sangat dekat dengan masyarakat khususnya masyarakat modern dan sekarang pengamatan simmel itu benar-benar terjadi.
2.5.3.      Di lingkungan Politik
Pada waktu seperti sekarang ini yaitu masa menjelang Pilpres 2014 kita tentunya sudah sering mendengar isu mengenai Money politik atau bahkan fakta mengenai Politik uang tersebut. Penulis menemukan fakta yang terjadi beberapa bulan yang lalu ketika musim kampanye untuk pemilihan Calon Legislatif tahun 2014. Pada waktu itu sering sekali ada kampanye besar yang dilakukan oleh beberapa partai politik di Stadion Gelora 10 November Surabaya yang berlangsung secara bergantian. Ketika ada kampanye besar pasti ada dana besar pula untuk melaksanakan kampanye tersebut. Lalu untuk apa mereka melakukan hal itu?, tentunya untuk memperoleh nilai yang dianggap berharga (suara pada pemilu) dan mengatasi jarak antara Caleg dengan masyarakat. Bahkan tidak hanya melakukan kampanye besar yang membutuhkan dana besar, mereka juga memberikan kaos dan amplop (berisi uang) kepada masyarakat yang berpartisipasi dalam kampanye tersebut untuk mendapatkan suara dari masyarakat sehingga mereka bias menang dalam pemilu Legislatif.
Contoh yang satu ini bisa menjelaskan bahwa uang bisa membuat jarak antara seseorang dengan benda atau orang lain tetapi uang juga yang bisa mengatasi jarak tersebut.




BAB III
PENUTUP

3.1           Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah tentang buku atau teori The Philosophy of Money dari Georg Simmel ini adalah membahas tentang nilai benda yang berasal dari kemampuan orang untuk mengatur antara jarak dirinya dengan objek. Benda bernilai atau tidak adalah waktu yang diperlukan untuk mendapatkannya, kelangkaan, kesulitan untuk memperolehnya, dan nilai tukar dari benda tersebut.
Dan dalam hal inilah Georg Simmel dalam teorinya menyampaikan bahwa nilai tukar tersebut dikatakan sebagai uang dan bukan barter lagi seperti dulu. Uang menurut Georg Simmel adalah sebagai alat untuk menentukan nilai, uang juga bisa diartikan benda untuk membuat jarak dari seseorang kepada benda sekaligus memberikan cara penyelesaian untuk mengatasi jarak yang dibuat oleh uang itu sendiri.
Jadi pada teori Georg Simmel yang satu ini lebih menekankan hubungan antara nilai dan uang, bagaimana uang bisa membuat batasan-batasan dari sebuah nilai dan uang sendiri bisa mengatasi batasan-batasan tersebut.

3.2           Saran
Masyarakat modern saat ini telah menjadikan uang sebagai sasaran utama dalam kehidupannya dan telah mengabaikan nilai-nilai yang seharusnya perlu diingatoleh masyarakat yang seharusnya semakin pintar seperti sekarang ini. Saran bagi pembaca maupun penulis sendiri yaitu, uang sebetulnya adalah hanya alat tukar untuk mendapatkan sesuatu atau sebuah nilai yang kita anggap berharga dan uang bukan menjadi sasaran utama dari aktifitas kita tetapi uang hanya menjadi sarana dalam proses mendapatkan nilai yang kita inginkan.